IDENTIFIKASI RISIKO-RISIKO YANG MUNGKIN DIHADAPI OLEH PERUSAHAAN JASA PENGIRIMAN JNE



Di era globalisasi ini, tidak dapat dipungkiri bahwa jasa pengiriman barang sangat dibutuhkan, baik itu oleh individu ataupun oleh organisasi/perusahaan. Pengiriman barang (bahan baku, bahan setengah jadi, ataupun barang jadi) yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan terhambatnya proses produksi. Inilah yang menyebabkan timbulnya kegagalan dalam usaha.
     
            Jasa pengiriman paket merupakan bisnis jasa titipan barang yang sangat banyak persaingannya, oleh sebab itu pendapatan perusahaan jasa titipan barang khususnya paket cenderung fluktuatif menurun seperti yang dialami oleh salah satu jasa pengiriman dalam negeri. Dengan banyaknya persaingan bisnis jasa titipan barang, maka persaingan ke depan akan lebih meningkat atau lebih cepat berubah sehingga peta permintaan akan jasa ini juga ikut berubah, hal ini apabila perusahaan jasa titipan tidak ikut perubahan mustahil perusahaan tersebut akan eksis. Dalam banyak hal perubahan tersebut terutama mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen. Banyak risiko yang dihadapi oleh JNE sebagai perusahaan yang terjun didalam jasa pengiriman, seperti :
            1. Pengelolaan SDM
            Risiko di bidang organisasi dan SDM yaitu ddalam hal penyusunan struktur organisasi, analisa jabatan, uraian tugas, dan tanggung jawab serta recruitment, training maupun pengembangan SDM perusahaan. Dalam hal ini JNE harus menempatkan sumber daya manusianya sesuai dengan keahliannya masing-masing.
            2. Persaingan antar perusahaan jasa pengiriman
            Prospek yang ada pada jasa pengiriman ini memang cerah, oleh karena itu pemainnya makin banyak dan menjamur dimana-mana. Sehingga dalam memenangkan persaingan, perusahaan JNE harus banyak melakukan perbaikan dalam hal layanan yang diberikan. Jika perusahaan JNE tidak tanggap dengan persaingan yang ada maka bisa dipastikan bahwa JNE akan mengalami penurunan dalam jumlah konsumen.
            3. Kesalahan tujuan pengiriman
            Ini adalah risiko yang dialami oleh semua perusahaan jasa pengiriman, kesalahan tujuan pengiriman adalah resiko yang harus dihadapi oleh perusahaan JNE. Tujuan pengiriman yang berada dipelosok desa maupun alamat yang kurang jelas dapat menyababkan kesalahan tujuan atau sasaran dalam pengiriman barang.
            4. Kerusakan pada barang yang dikirim
            Kondisi jalan yang ditempuh dari asal pengiriman sampai ditujuan pengiriman tidak dapat diprediksi. Hal ini menyebabkan adanya risiko kerusakan pada barang yang dikirim. Kerusakan yang dialami saat pengiriman dapat menyebabkan konsumen kecewa dan kemudian akan memilih jasa pengiriman lain.
            5. Pencurian dan kebakaran gudang
            Banyaknya barang yang disimpan dalam gudang dan lemahnya penjagaan di areal gudang dapat menyebabkan adanya pencurian. Dan dengan adanya banyak barang yang mudah terbakar yang disimpan dalam gudang maka akan menyebabkan mudahnya terjadi kebakaran. Hal-hal ini dapat diantisipasi dengan cara mengoptimalkan security, pemasangan CCTV disetiap sudut gudang dan menghindari menyalakan api diareal gudang penyimpanan.

EXCITE.

AZAZ DAN SENDI DASAR KOPERASI

1.4   AZAZ DAN SENDI DASAR KOPERASI
            Azaz Koperasi
             UU No. 25/1992, pasal 2 , menyatakan kekeluargaan sebagai asas koperasi . Di satu pihak lain hal itu sesuai dengan penegakan ayat 1 pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasan sebagai mana telah dikemukakan diatas. Sejauh bentuk –bentuk perusahaan lainnya tidak dibangun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan ini merupakan pembeda utama antara koperasi dengan bentuk usaha lainnya.
            Dan Azaz Koperasi adalah kekeluargaan dan Kegotongroyongan.


            Sendi – sendi Dasar Koperasi :
·         Sifat keanggotaan sukarela dan terbuka untuk setiap warga Indonesia.
·         Rapat anggota merupakan kekuasaan yang tertinggi sebagai pencerminan demokrasi dalam koperasi.
·         Pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-masing abggota.
·         Adanya pembatasan bunga atas modal.
·         Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.
·         Usaha dan ketatalaksanaannya bersifat terbuka.
·         Swadaya , swakerta, dan swasembada sebagai pencerminan pencerminan dari prinsip dasar yaitu percaya pada diri sendiri.
                                                                                            
1.5  RUANG LINGKUP EKONOMI KOPERASI
            Ekonomi koperasi membahas tentang penerapan ilmu ekonomi dalam mengembangkan koperasi. Ilmu ekonomi yang dimaksud terutama dari ilmu ekonomi mikro karena koperasi dipandang sebagai unit usaha yang mempunyai tujuan ekonomi. Hanya saja ada perbedaan tujuan ekonomi koperasi dengan unit usaha yang bukan koperasi. Umumnya unit usaha yang bukan koperasi bertujuan mencari keuntungan maksimal, sedangkan koperasi selain bertujuan mencari keuntungan juga melakukan pelayanan kepada anggotanya.
            Koperasi sebagai bagian dari sistem pasar akan bersaing dengan unit usaha lain dengan pasar yang sama- sama memberikan pelayanan kepada anggota masyarakat, sehingga factor keuntungan kompraratif( keuntungan yang diperbandingkan) sangat penting bagi eksistensi koperasi. Dasar yang digunakan dalam mangetahui keunggulan bersaing adalah efisiensi usaha, artinya hanya unit usaha yang mempunyai keunggulan bersaing dalam sistem pasar yang demikian luas. Oleh karena itu konsep efisiensi koperasi menjadi sorotan penting dalam buku ini.
            Sisi lain dari ekonomi koperasi yang berbagai harapan yang dikemukakan dalam buku ini adalah kewirausahaan koperasi dan kebijakan-kebijakan koperasi,khususnya di Indonesia. Kewirausahaan koperasi ,khususnya di Indonesia, kewirausahaan koperasi perlu dibahas karena maju mundurnya koperasi tergantung pada keputusan – keputusan yang diambil para wirausaha muda.seperti anggota dan manajemen.

Pengertian Umum Koperasi



1.1  PENGERTIAN UMUM KOPERASI

Beberapa Pengertian Umum Koperasi
Secara akfiah kata “Koperasi berasal dari : Cooperatin (latin), /Cooperation (inggris) atau Co_operatie (Belanda). Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai : bekerja sama atau bekerja bersama, atau kerja sama. Merupakan koperasi (menurut Sri Edi Swasono ).
            Secara umum Koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka, melalui pembentukan sebuah perusahaan yang dikelola secara demografis.
            Berikut adalah dua pengertian Koperasi sebagai pegangan untuk mengenal Koperasi lebih jauh :
Koperasi didirikan sebagai persekutuan kaum yang lemah untuk membela keperluan hidupnya. Mencapai keperluan hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya itulah yang dituju. Pada koperasi didahulukan keperluan bersama, bukan keuntungan (Hatta, 1954)
Koperasi adalah suatu perkumpulan orang, biasa yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, yang melalui suatu bentuk organisasi perusahaan yang diawasi secara demokratis, masing-masing memberikan sumbangan yang setara terhadap modal yang diperlukan, dan bersedia menanggung resiko serta menerima imbalan yang sesuai dengan usaha yang mereka lakukan (ILO 1996 dikutip daro Edilius dan Sudarsono 1993).
Berdasarkan kedua deefinisi tersebut dapat diketahui bahwa dalam koperasi setidak-tidakna terdapat dua unsure yang saling berkaitan satu sama lain. Unsure pertama adalah unsur ekonomi dan unsure yang kedua adalah unsure sosial.

Keuntungan bukanlah tujuan utama Koperasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Bung Hatta (1954). Yang lebih diutamakan dalam Koperasi adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi para anggota.

1.2  LANDASAN KOPERASI
                        Landasan koperasi Indonesia adalah pedoman dalam menentukan arah,tujuan ,peran serta dukungan Koperasi terhadap pelaku-pelaku ekonomi lainnya. Sebagai mana dinyatakan dalam UU No. 25/1992 tentang pokok-pokok Perkoperasian, Koperasi Indonesia mempunyai landasan sebagai berikut :
A.    Landasan Idiil
Landasan idiil koperasi Indonesia adalah Pancasila. Penempatan pancasila sebagai landasan koperasi Indonesia ini didasarkan atas pertimgbangan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup dari idiologi bangsa Indonesia.  Dengan kedudukan seperti ini, maka wajar bila Pancasila diterima sebagai landasan idiil Koperasi atau organisasi-organisasi lainnya di Indonesia.
Pancasila yang dimaksud disini adalah rumusan yang dimasukkan dalam UUD 1945 Alinia ke 4 yaitu :
Ø  Ketuahan Yang Maha Esa
Ø  Kemanusiaan yang adil dan Beradap
Ø  Persatuan Indonesia
Ø  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaraan/perwakilan.
Ø  Serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketetapan MPR No.II/MPR/1978, yang juga dinamakan “Eka Prasetya Pancakarsa”, memberi petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengalaman kelima sila dari pancasila, sebagai berikut :
a.       Sila Ketuhanan Yang Maha Esa :
Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
b.      Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab  :
Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Saling mencintai sesama manusia , mengembangkan sikap tenggang rasa.
c.       Sila Persatuan Indonesia :
Menempatkan persatuan,kesatuan , kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi atau golongan. Rela berkorban untuk bangsa dan Negara.
d.      Sila Kerakyatan Yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Permusyawaratan/perwakilan :
Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

e.       Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia :
Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong,bersikap adil,menjaga keseimbangan antar hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang lain.

B.     Landasan Strukturil
Bab II UU No. 25 Tahun 1992 menempatkan UUD 1945 sebagai landasan strukturil Koperasi Indonesia. UUD 1945, sebagaimana diketahui, merupaka aturan pokok organisasi Negara Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila. Dalam UUD 1945 terdapat beberapa ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia dalam bernegara.

Apabila kita menyebut Undang-Undang Dasar 1945 yang dimaksud adalah keseluruhan   naskah yang terdiri dari :

I.                   Pembukaan;
II.                Batang tubuh UUD’45 yang terdiri dari 16 Bab dan berisi 37 pasal,beserta 4 pasalaturan peralihan dan 2 ayat aturan tambahan;
III.             Penjelasan UUD 1945
Naskah yang resmi telah dimuat dan disiarkan dalam “berita republic Indonesia” yang terbit pada tanggal 15 Februari 1946. Sebagaimana kita ketahian, UUD 1945
Adapun bunyi pasal 33 yang terdapat pada UUD 1945 adalah :
I.                   Perekonomiaan disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas keluarga.
II.                Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak sikuasai Negara
III.             Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkanding di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

C.    Landasan mental koperasi Indonesia : Setia kawan dan Kesadaran berpribadi :
Kedua landasan mental ini harus bersatu padu ,  saling memperkuat satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan berkoperasi keduanya diperlukan sebagai dua unsure yang dorong mendorong, hidup menghidupi dan saling awas mengawasi.
Kegotongroyongan yang ada hingga kini adalah warisan nenek moyang kita yang arif, dan inilah wujud setia kawan yang sudah lama ada dan berkembang dalam masyarakat Indonesia yang asli. Tapi itu tidak cukup digunakan sebagai landasan mental kita dalam hidup berkoperasi. Dibutuhkan factor dukungan lainnya sehingga kita mempu menaikkan derakat  penghidupan dan kemakmuran . dan factor yang dimaksud tak lain adalah kesadaran bahwa kita sebagai manusia yang berkepribadian yang memiliki harga diri serta percaya pada kemampuan diri sendiri.

1.3  FUNGSI KOPERASI INDONESIA
v  Aliran Yarsdstick
Fungsi dan peranan penting Koperasi menurut aliran ini, pada dasarnya hanyalah sebagai tolok ukur, dalam artian sebagai penyeimbang atau sebagai penetraisir, terhadap kapitalis. Sebab itu, sasaran gerakan Koperasi dalam suatu masyarakat kapitalis, terbatas dalamsegi melenyapkan praktik-praktik persaingan yang tidak sehat yang seringa menyertai sistem perekonomian itu.

v  Aliran Sosialis
Bagi aliran ini yang memandang sistem perekonomian kapitalis sebagai musuh utamanya, fungsi koperasi dalam masyarakat kapitalis harus lebih dari hanya sekedar sebagai tolak ukur atau sebagai penyeimbang .


v  Aliran Persemakmuran
Bagi aliran persemakmuran fungsi dan peran koperasi sebagai masyarakat kapitalis bukanlah sekedar sebagai penyeimbang bukan pula sekedar sebagai alat, melainkan sebagai alternative dari bentuk-bentuk perusahaan kapitalis.

FUNGSI DAN PERAN KOPERASI DI INDONESIA
a.       Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka.

b.      Turut serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan dan masyarakat.
c.       Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
d.      Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demakrasi ekonomi.

Pasar Konsumen dan Perilaku Konsumen


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
                  Tujuan Pemasaran adalah untuk memenuhi dan memberikan kepuasan kepda kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku Konsumen adalah study tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, membuat barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memberikan kepuasan kepada keinginan dan kebutuhan mereka. Memberikan kepuasan kepada konsumen memberikan clues untuk memperbaiki atau memperkenalkan produk atau jasa, menentukan harga, menetapkan jalur distribusi, merancang pesan, dan mengembangkan aktivitas pemasaran lainnya. Para marketer selalu mencari tren-tren yang muncul yang memberikan peluang-peluang pemasaran baru.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pasar konsumen?
2.      Apa sajakah model perilaku konsumen individu?
3.      Sebutkan factor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen individu
4.      Bagaimana proses-proses keputusan pembeli individu?
C.     Tujuan
1.      Dapat menjelaskan pengertian dari pasar konsumen
2.      Dapat menjelaskan model-model perilaku konsumen
3.      Dapat menyebutkan factor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
4.      Dapat menjelaskan tahap proses keputusan pembeli individu








BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pasar Konsumen
                Pasar atau konsumen dapat dibedakan menjadi dua golongan, yakni konsumen akhir (pasar konsumen) dan pasar bisnis (pasar industri). Dimana pasar konsumen adalah sekelompok pembeli yang membeli barang-barang untuk dikonsumsi dan bukannya untuk diproses lebih lanjut. Sedangkan pasar bisnis adalah pasar yang terdiri dari individu-individu atau organisasi yang membeli barang untuk diproses lagi menjadi barang lain dan kemudian dijual. Berdasarkan pengertian tersebut, sebagai contoh maka petani digolongkan kedalam pasar bisnis, sebab mereka membeli barang digunakan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang-barang hasil pertanian.

2.      Model-Model Perilaku Konsumen
Terdiri dari:
·         JENIS PERILAKU KEPUTUSAN PEMBELIAN
Pengambilan keputusan pembelian pada konsumen pada dasarnya berbeda-beda, hal ini dapat bergantung pada jenis keputusan pembelian. Keputusan untuk         membeli sebuah sabun mandi, alat-alat olahraga, komputer, dan kendaraan bermotor tentunya sangat berbeda. Henry Assel membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan antarmerek. Adapun jenis-jenis perilaku pembelian tersebut sebagai berikut:
                        1. Perilaku pembelian yang rumit
Menurut Hassel, perilaku pembelian yang rumit terdiri dari tiga tahapan. Pertama, pembeli mengembangkan keyakinan tentang suatu produk tertentu. Kedua, ia akan membangun sikap tentang produk tersebut. Ketiga, ia membuat pilihan yang cermat. Dalam perilaku pembelian jenis ini  konsumen dikatakan melakukan pembelian yang rumit jika mereka terlibat dalam kegiatan pembelian yang dimana terdapat sebuah perbedaan yang besar antar merek. Biasanya kegiatan pembelian     jenis ini biasanya terjadi bila produk yang akan dibeli memiliki harga yang mahal, jarang dibeli, berisiko, dan sangat mengekspresikan diri seperti, kendaraan bermotor, telepon selular dan sebagainya.
                        2. Pembelian pengurang ketidaknyamanan
Terkadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian namun hanya melihat sedikit perbedaan antar merek. Keterlibatan yang tinggi didasari pada fakta-fakta       bahwa pembelian tersebut sangat mahal, jarang dilakukan dan berisiko tinggi. Dalam kasus itu, pembeli akan bebelanja dengan berkeliling untuk mempelajari merek yang tesedia. Jika konsumen menemukan perbedaan mutu antarmerek tersebut, dia mungkin akan memilih harga yang lebih tinggi. Jika konsumen menemukan perbedaan kecil dia mungkin akan akan membli semata-mata berdasarkan harga dan kenyamanan. Setelah pembelian tersebut, konsumen mungkin akan mengalami disonansi/ketidaknyamana yang muncul setelah merasakan adanya fitur yang tidak mengenakan atau yang menyenangkan mengenai merek lain, dan akan siaga terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Dalam contoh ini, konsumen pertama-tama bertindak, kemudian        mendapatkan keyakinan baru, dan berakhir dengan mendapatkan serangkaian sikap. Komunikasi pemasaran harus memasok keyakinan dan evaluasi yang             membantu konsumen merasa puas terhadap pilihan mereknya.
                        3. Perilaku Pembelian karena kebiasaan
Dalam sebuah kegiatan pembelian terdapat banyak produk yang dibeli pada kondisi rendahnya keterlibatan konsumen dan tidak adanya perbedaan antarmerek yang signifikan. Misalnya Sabun mandi. Para konsumen akan memiliki sedikit keterlibatan pada jenis produk itu. Mereka pergi ke toko dan mengambil merek tertentu. Jika mereka tetap mengambil merek yang sama, hal itu karena kebiasaan bukan karena kesetiaan yang kuat terhadap merek. Terdapat bukti bahwa konsumen tidak memiliki keterlibatan yang tinggi dalam pembelian sebgaian produk yang rendah dalam sebagian besar produk yang murah dan sering dibeli.
Dalam perilaku pembelian jenis ini, para pemasar dapat melakukan empat teknik untuk berusaha mengubah produk dengan keterlibatan rendah menjadi keterlibatan tinggi. Pertama, pemasar dapat mengaitkan produk dengan beberapa isu yang menarik keterlibatan, seperti ketika pasta gigi pepsodent dikaitkan dengan usaha untuk mencegah gigi berlubang. Kedua, merek dapat mengaitkan produk dengan beberapa situasi pribadi, contohnya dengan mengiklankan merek kopi setiap  pagi hari ketika konsumen ingin mengusir rasa kantuk. Ketiga, pemasar dapat merancang iklan yang dapat memicu emosi yang berhubungan dengan nilai pribadi. Keempat, dengan menambahkan fitur yang penting, contohnya melengkapi minuman biasa dengan vitamin.
4. Perilaku Pembelian yang mencari variasi
Pada jenis perilaku pembelian ini ditandai dengan rendahnya keterlibatan konsumen terhadap perbedaan merek yang signifikan. Dalam situasi ini konsumen sering melakukan  peralihan merek. Salah satu contih dari jenis pembelian ini dapat dilihat dalam pembelian kue kering. Dalam kegiatan pembelian ini konsumen memiliki beberapa keyakinan tentang kue kering, memilih kue kering tanpa melakukan banyak evaluasi dan mengevaluasi produk selama konsumsi. Namun pada kesempatan berikutnya, konsumen mungkin akan mengambil merek lain karena ingin mencari rasa yang berbeda dan peralihan merek terjadi karena adanya keinginan untuk mencari variasi bukan karena adanya ketidakpuasan.
3.      Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Individu
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
1. Faktor Sosial
a. Grup
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens,2003,pp.203-204).
b. Pengaruh Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
c. Peran dan Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

2. Faktor Personal
a.       Situasi Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
b.      Gaya Hidup
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
c.       Kepribadian dan Konsep Diri
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
d.      Umur dan Siklus Hidup
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
e.       Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

3. Faktor Psikologi
a. Motivasi
      Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b. Persepsi
      Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).


c. Pembelajaran
      Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

4. Faktor Kebudayaan
      Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a. Subkultur
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b. Kelas Sosial
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

4.      Proses Keputusan Pembeli Individu
1.      Pengenalan Kebutuhan
Merupakan tahap pertama proses keputusan pembeli, yaitu ketika konsumen mengenali adanya masalah atau kebutuhan.
2.      Pencarian Informasi
Tahap yang merangsang konsumen untuk mencari informasi lebih banyak, konsumen mungkin hanya meningkatkan perhatian atau mungkin aktif mencari informasi dari sumber-sumber atau beberapa alternatif.
·         Sumber pribadi            : keluarga, teman, tetangga, kenalan
·         Sumber komersial        : Iklan, wiraniaga, agen, kemasan, pajangan
·         Sumber publik              : media massa, organisasi penilai konsumen
·         Sumber pengalaman    : penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk
3.      Evaluasi Alternatif
Tahap ketika konsumen menggunkan informasi untuk mengevaluasi merek alternative dan perangkat pilihan.
4.      Keputusan Membeli
Tahap, ketika konsumen benar-­benar membeli produk . setelah mengevaluasi alternatif yang ada dan mempelajarinya agar meyakinkan untuk mengambil suatu keputusan.
5.      Tingkah Laku Pasca Pembelian
Tahap ketika konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas dan tidak puas. Sehingga dapat mengevaluasi alternatif lain yang ada setelah melakukan transaksi. Berdasarkan teori-teori diatas bahwa seorang konsumen sebaiknya mengikuti proses-proses tersebut dalam menjalani kegiatan ekonomi dalam bidang konsumsi, sehingga para konsumen bisa dapat seksama menjalani dan mempelajari apa-apa yang harus dilakukan dalam proses transaksi.

5.       Perilaku Konsumen Internasional
Menurut American Marketing Association, perilaku konsumen didefinisikan sebagai: interaksi dinamis antara pengaruh & kognisi, perilaku & kejadian di sekitarnya dimana manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka.
Ada 3 ide penting dalam definisi tersebut :
1. Perilaku konsumen adalah dinamis, artinya : konsumen atau kelompok konsumen selalu berubah & bergerak sepanjang waktu.

2. Perilaku konsumen melibatkan interaksi, artinya : memahami konsumen & mengembangkan strategi pemasaran yang tepat, sehingga harus memahami apa yang mereka pikirkan ( kognisi ), apa yang mereka rasakan ( pengaruh ), apa yang mereka lakukan ( perilaku ), dan apa serta dimana ( kejadian disekitarnya ).
3. Perilaku konsumen melibatkan pertukaran di antara individu.

6.        Proses Psikologis Pada Perilaku Konsumen Internasional
·         Affect ( afeksi ), merupakan segala sesuatu yang melibatkan perasaan terhadap tanggapan dari penilaian positif atau negatif, senang atau benci dan dalam intensitas atau tingkatan pergerakan badan.

Tanggapan afektif diciptakan oleh sistem afektif. Ada 5 sifat dasar dari sistem afektif, yaitu :
1. Reaktif , artinya tanpa rencana, tanpa tujuan, atau tanpa keputusan terjadi dengan segera & otomatis dari aspek nyata pada lingkungan. Misal : warna kesukaan.
2. Masyarakat memiliki kontrol langsung yang kecil, misalnya perlakuan kasar salesman menyebabkan frustasi / marah, kerumunan / antrian pembelian di sebuah toko menyebabkan perasaan tidak nyaman / frustasi sehingga meninggalkan toko.
3. Fisik ada dalam tubuh manusia, misal rasa gugup akibat kegembiraan membeli suatu produk yang sangat penting ( rumah atau mobil ).
4. Dapat menanggapi berbagai jenis rangsangan. Misal : tanggapan evaluasi pada objek atau situasional.
5. Belajar ( penilaian / perasaan ) misalya : pengalaman, pengetahuan & interaksi.

·         Kognitif ( cognition ) menurut anderson; 1985 merupakan proses mental yang dikembangkan oleh sistem, yaitu pengertian, penilaian, perencanaan, penetapan & proses berpikir.
1. Pengertian : menginterprestasikan atau menetapkan arti aspek khusus lingkungan seseorang.
2. Penilaian : menetapkan apakah suatu aspek lingkungan / perilaku pribadi seseorang adalah baik / buruk, positif / negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan.
3. Perencanaan : menetapkan bagaimana memecahkan suatu permasalahan atau mencapai tujuan.
4. Penetapan : membandingkan alternatif pemecahan suatu masalah dari sudut pandang sifat yang relevan & mencari alternatif terbaik.
5. berpikir : aktivitas kognitif yang muncul di sepanjang proses pengertian, penilaian, perencanaan & penetapan.








BAB III

KESIMPULAN

Pasar Konsumen adalah kelompok individual (perorangan maupun rumah tangga) yang membeli dan mengkonsumsi barang atau jasa untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya, tidak untuk maksud lain. Model perilaku pasar konsumen digambarkan dalam bentuk skema stimulus-respons model, yang menjelaskan mengenai karakteristik pembeli mempengaruhi bagaimana dia mempersepsikan dan bereaksi terhadap rangsangan serta proses pengambilan keputusan pembelian itu sendiri mempengaruhi perilaku pembeli.
Adapun karakterisitik yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu factor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Didalam pembelian suatu produk, terdapat suatu proses pengambilan keputusan yang biasa dihadapi oleh konsumen, meliputi pengenalan kebutuhan, kebutuhan informasi, evaluasi alternative, pengambilan keputusan, dan perilaku lanjut.

PENGARUH KEPUASAN KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

Bagus Asta Iswara Putra, A.A Sagung Kartika Dewi Abstract The aim of this study was to examine the direct effect of job satisfaction ...